Setelah pada tinjauan sebelumnya telah dijelaskan mengenai penyakit preeklampsia, dengan risiko-risiko komplikasi dan kegawatannya, serta tindakan-tindakan yang akan dilakukan dokter, maka kali ini saya akan mencoba membahas mengenai hal-hal apa yang bisa dilakukan ibu hamil untuk mencegah terjadinya penyakit ini.
Preeklampsia seperti telah dijelaskan sebelumnya penyebab pastinya belum diketahui,namun berbagai faktor risikonya telah diketahui. Langkah awal untuk pencegahan preeklampsia yang paling efektif sebenarnya adalah pemeriksaan antenatal yang teratur dan rutin di fasilitas kesehatan yang memadai. Berapa sering ibu hamil harus memeriksakan kehamilannya? Tergantung usia kehamilannya (UK): pada UK 0-28 minggu cukup sekali/bulan, UK 28-36 minggu 2x/bulan, dan 36-40 minggu seminggu sekali.
Dengan pemeriksaan antenatal yang teratur maka munculnya gejala-gejala preeklampsia dapat dideteksi secara dini, cukup dengan melakukan pemeriksaan tekanan darah yang cukup sederhana maka gejala preeklampsia sudah dapat dideteksi.
Selain itu apalagi yang bisa dikerjakan ibu hamil untuk mencegah preeklampsia? Karena kita hanya tahu faktor risiko preeklampsia, maka logis jika kita ingin mencegah preeklampsia maka caranya dengan menurunkan faktor-faktor risikonya. Namun ada beberapa faktor risiko yang tidak bisa dimanipulasi, contohnya seperti kehamilan pertama.
Faktor-faktor risiko lain bisa dimanipulasi, seperti: adanya infeksi, obesitas (kegemukan), penyakit kronis (kencing manis, ginjal, dan darah tinggi kronis), dll. Infeksi harus dicegah pada ibu hamil karena itu pada kehamilan harus rutin melakukan pemeriksaan gigi dan kencing untuk menilai ada tidaknya infeksi,jika didapatkan infeksi maka harus diterapi.
Obesitas,sebaiknya pada ibu yang mengalami kegemukan dan berencana hamil maka sebaiknya menurunkan dulu Berat badannya menjadi lebih ideal. Yang dinilai adalah indeks massa tubuhnya sebelum hamil, dikatakan obesitas jika indeks massa tubuh (IMT) > 28 sebelum hamil. Sedangkan rumus IMT adalah berat badan (kg)/tinggi badan2 (m2). Idealnya antara 20-24 kg/m2.
Namun bagaimana jika sudah hamil? Apakah harus menurunkan berat badannya? Tentu tidak,dengan menurunkan berat badan saat hamil maka akan membahayakan janinnya (pertumbuhan bisa terganggu). Langkah yang tepat jika anda hamil dan obesitas adalah membatasi kenaikan berat badan saat hamil, ibu hamil dengan obesitas sebaiknya hanya menambah BB total 5-8 kg selama hamil.
Hal yang sama berlaku pada ibu yang malnutrisi, idealnya memperbaiki kondisi gizi dan menaikkan berat badan sehingga mencapai BMI ideal sebelum hamil. Namun jika sudah terlanjur hamil dalam keadaan malnutrisi maka sebaiknya penambahan berat badan harus lebih banyak dibandingkan ibu hamil normal, antara 12-20 kg total penambahan berat badan selama hamil.
Hal yang sama berlaku pada ibu yang malnutrisi, idealnya memperbaiki kondisi gizi dan menaikkan berat badan sehingga mencapai BMI ideal sebelum hamil. Namun jika sudah terlanjur hamil dalam keadaan malnutrisi maka sebaiknya penambahan berat badan harus lebih banyak dibandingkan ibu hamil normal, antara 12-20 kg total penambahan berat badan selama hamil.
Bagaimana dengan penyakit2 lainnya? Sebaiknya sebelum hamil penyakit2 kronis seperti kencing manis, ginjal, darah tinggi ini sudah dalam keadaan terkontrol dan tidak sedang aktif. Karena itu pada orang yang mempunyai penyakit tertentu, perencanaan kehamilan adalah suatu hal yang sangat penting dilakukan. Ketika hamil dengan kondisi penyakit yang aktif maka risiko2 komplikasi pada ibu maupun janin tentu jauh lebih tinggi dibandingkan jika penyakitnya dalam keadaan “tenang”,ini juga berlaku pada penyakit autoimun.
Pertanyaan sering lainnya? Bagaimana dengan pola makan, aktivitas, apa perlu tambahan suplemen/vitamin, apa perlu obat-obatan khusus untuk mencegah preeklampsia? sabar,Insya Alloh akan saya jelaskan dalam postingan berikutnya.
Semoga bermanfaat.



0 comments:
Post a Comment